Pendidik yang Berkarakter

Standard

Kita bisa pandai menulis dan membaca karena pak Guru,
Kita bisa tahu beraneka ragam ilmu karena Bu Guru,
Guru bak pelita, penerang gelap gulita, jasamu tiada tara’.

Petikan lagu di atas mengingatkan kita, bahwa jasa guru-guru kita sangatlah besar. Karena bantuan mereka, kita semua bisa memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup sebagai bekal dalam memahami kehidupan. Karena memahami sangat berartinya peran guru bagi pendidikan anak bangsa maka ketika dua kota di Jepang, Hirosima dan Nagasaki dibom oleh tentara sekutu menggunakan bom atom sampai luluh lantah. Sang kaisar Jepang, Hirohito dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya kepada pusat informasi, berapa jumlah guru yang masih hidup? Luar biasa!. Begitu fahamnya pemahaman sang pemimpin akan fungsi guru. Dia tidak putus asa karena negeri yang dipimpinnya hancur lebur. Dia tidak khawatir Jepang akan hancur, selama guru masih banyak yang hidup. Memang tidaklah aneh, hanya dalam waktu yang singkat, Jepang sudah kembali seperti semula sebagai negara maju, salah satunya berkat memaksimalkan fungsi guru/pendidikan. Lalu bagaimanakah sosok guru bagi bangsa Indonesia ini?

Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan sekolah dan guru di Indonesia sangatlah besar. Keduanya sangat dibutuhkan untuk menjalankan proses pembelajaran dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dalam konteks persekolahan, guru adalah ujung tombak. Guru memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin proses pembelajaran bisa berlangsung. Kalau boleh mengutip, mungkin itulah yang menjadi landasan pikiran bagi Ho Chi Min (bapak pendidikan Vietnam) yang mengatakan bahwa, No teacher No education. No education, no economic and social development. Begitu tingginya arti seorang guru bagi pembelajaran bangsa ini. Tanpanya bangsa ini tak akan maju dan makmur. Tanpanya tunas-tunas penerus bangsa tak akan terdidik atau bangkit membangun bangsa ini.

Peran sekolah adalah sebagai  tempat yang sangat strategis bahkan yang utama setelah keluarga. Keluarga dan sekolah bersama-sama turut memegang andil dalam pembentukan kepribadian /karakter  anak didik. Untuk menghasilkan anak didik yang berkarakter, tentunya dibutuhkan sekolah dan guru-guru yang berkarakter pula. Terkait dengan pembentukan  akhlak/karakter siswa,  sudah seharusnya setiap sekolah menjadikan kualitas akhlak/ karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki oleh setiap lulusan sekolahnya.

Salah satu hadits berbunyi:  “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah). Jelaslah bagi kita, Jika ternyata baiknya akhlak menjadikan sempurnanya iman, maka tidak ada alasan bagi sekolah kita untuk menomor duakan keseriusan dalam upaya pembentukan akhlak/karakter dibanding keseriusan mengejar keunggulan teknologi. Bahkan yakinlah, bahwa jika anak didik kita memiliki akhlak/karakter yang baik, insya Allah merekapun akan lebih mudah kita pacu untuk mengejar prestasi lainnya.

Pendidikan yang ditangani oleh guru yang berkarakter akan melahirkan generasi yang berkarakter di mana guru sebagai sentral pengamatan dan teladan bagi siswa didiknya. Karakter yang diperlihatkan dan diajarkan oleh guru akan tertanam di dalam memori siswa dan akan menjadi master watak dan perilaku dalam menjalani kehidupannya kelak. Masih teringat di dalam ingatan kita tentang berbagai masalah yang ditayangkan oleh berbagai media yang menyesakkan dada kita. Kasus Century yang belum ada penyelesaiannya, kasus sisminbankum, dan terakhir kasus mafia pajak yang diaktori oleh Gayus yang hingga sekarang ini masih menjadi tanda tanya masyarakat.

Serangkaian masalah tadi jelas menjadikan manusia sebagai pemain utamanya. Permainan yang melibatkan orang-orang terdidik dan berpendidikan tersebut tentunya merupakan pola pendidikan kita sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kalau fenomena tersebut merupakan buah yang dipetik dari pohon pendidikan yang kita tanam beberapa tahun yang lalu maka persoalan yang menjadi sorotan adalah bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana guru menjalankan fungsi-fungsinya dalam proses pembelajaran. Guru yang merupakan orang yang pertama dan utama dalam pendidikan harusnya menjadi orang yang menjadi pola bagi anak didiknya.

Mengajar, mendidik, dan melatih sebagai fungsi profesi guru merupakan fungsi strategis guru dalam melahirkan anak didik yang berkarakter mulia (berkepribadian Islam). Output pendidikan diharapkan dapat mengaktualisasikan nilai-nilai karakter yang dimaksud. Guru yang menjadi teladan bagi anak didiknya seyogyanya terlebih dahulu memahami dan memiliki karakter berkepribadian Islam tersebut, serta selalu berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tujuan pendidikan yang ditangani oleh guru yang berkarakter akan melahirkan generasi yang berkarakter mulia dapat terwujud.

Guru berkarakter mempunyai sikap sebagai pembelajar sejati artinya seorang guru akan selalu mencari dan menambah ilmunya guna ditransfer kepada siswanya dan bercita-cita untuk menjadi guru yang paripurna. Pendidikan  berkarakter yang dilakonkan oleh guru berkarakter akan melahirkan siswa berkarakter yang akan mencetak generasi bangsa berkarakter yang siap menjadi pemimpin (leader) dan problem solver  serta dapat memberikan kontribusi kepada negara ini.  Pada akhirnya, harapan kita untuk mewujudkan negara berkarakter, kuat, adil dan sejahtera dapat terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s